Landasan Berdirinya Muhammadiyah (Kajian Tafsir Ibnu Katshir : Qs. Ali-Imran Ayat 104)
Muhammadiyah adalah salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia yang didirikah oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 H. Tujuan Muhammadiyah adalah untuk menegakkan agama islam dan mewujudkan masyarakat islam yang sebenar-benarnya.
Dalam Muqoddimah anggaran dasar Muhammadiyah tahun 1946. Konsep dari masyarakat islam yang sebenar-benarnya merupakan konsep keagamaan dan kultural. Muhammadiyah meyakini bahwa menegakkan dan menjunjung tinggi agama islam adalah wajib sebagai ibadah kepada Allah SWT, dan melakukan perbuatan baik kepada seluruh umat manusia.
Dalam pembentukannya Muhammadiyah,banyak melandaskan kepada perintah-perintah Allah dalam Al-Qur'an salah satu ayat yang menjadi inspirasi bagia Ahmad Dahlan dalam pembentukan Muhammadiyah adalah terdapat pada surah Ali-Imran ayat 104 yang berbunyi:
"Dan hendaklah diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeruh kepada makruf dan mencegah dari pada yang mungkar, dan berekalah orang-orang yang beruntung".
Tulisan ini akan mengkaji secara mendalam tentang surah Ali-Imran ayat 104 menurut tafsir Ibnu-Katsir yang ditulis oleh Ibnu Katsir.
Tafsir Ibnu Katsir
Allah berfirman bahwasanya hendaklah ada dari kalian sejumlah orang yang bertugas untuk menegakkan perintah Allah, yaitu dengan menyeru orang-orang untuk berbuat, kebajikan dan melarang perbuatan yang mungkar, mereka adalah golongan orang-orang yang beruntung.
Ad-Dahhak mengatakan, mereka adalah para sahabat yang terpilih, para mujahit yang terpilih dan para ulama.
Abu Ja'far Al-Baqir meriwayatkan bahwa Rosulullah membacakan firmannya: "Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan" (Ali-Imran: 104). kemudian beliau bersabda: "Yang dimaksud dengan kebajikan ini ialah mengikuti Al-Qur'an dan sunnahku." Hadis diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih.
Makna yang dimaksud dalam ayat ini adalah hendaklah ada segolongan orang dari kalian umat ini yang bertugas untuk mengemban urusan tersebut, sekalipun urusan tersebut memang diwajibkan pula atas setiap individu dari ummat ini.
Sebagaimana yang disebutkan didalam kitab Sahih Muslim dari sebuah hadis dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rosulullah pernah bersabda:
"Barang siapa diantara kalian melihat suatu kemungkinan, hendaklah ia mencegahnya, dengan tangannya, dan jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.
Dan didalam riwayat lain desebutkan: "Dan tiadalah dibelakang itu iman barang seberat biji sawi pun". Iman Ahmad, mengatakan, telah mencitakan kepada kami Sulaiman Al-Hasyimi, telah menceritakan kepada kami Ismail Ibnu Ja'far, telah menceritakan kepadaku Amr Ibnu Abu Yaman, bahwa Nabi pernah bersabda:
"Demi Tuhan yang jiwaku berada didalam genggaman kekuasaan-Nya, kalian benar-benar harus memerintahkan kepada kebajikan dan melarang perbuatan mungkar, atau hampir-hampir Allah akan mengirimkan kepada kalian siksa dari sisinya, kemudian kalian benar-benar berdoa (meminta pertolongan kepada-Nya) tetapi doa kalian tidak diperkenankan.
Iman Turmuzi dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan melalui hadis Amr Ibnu Abu Amr dengan lafaz yang sama. Imam Turmuzi mengatan bahwa hadis-hadis ini hasan.
Hadis-hadis mengenai masalah ini cukup banyak, demikian pula ayat-ayat yang membahas mengenainya, seperti yang akan disebut nanti dalam tafsirnya masing-masing.
Kesimpulan dari firman Allah diatas ialah Allah SWT menyuruh kepada hambanya yang beriman untuk selalu berada dijalan yang lurus serta mengajak orang lain terhadap kebaikan dan menghalangi dari perbuatan mungkar. Dimana mereka yang menyeru demikian, akan dijanjikan sebagai orang-orang yang beruntung.
Dalam hal ini Muhammadiyah berperan sebagai organisasi islam yang menyeru dan mengajak orang lain kepada kebaikan.
KH. Ahmad Dahlah menafsirkan salah satu potongan ayat pada surah Ali-Imran Ayat : 104 yaitu "Ummatun" : ialah ada segolongan umat artinya tidak hanya satu orang, berkelompok atau berorganisasi. Kenapa harus berkelompok? beliau menafsirkan apabila berkelompok itu lebih kuat berbeda dengan perorangan. Jadi ini merupakan alasan beliau untuk mendirikan organisasi yang bernama Muhammadiyah, dimana organisasi ini akan menjadi sebuah gerakan, yang bergerak disegala bidang seperti halnya dalam berdakwah.
Kelanjutan ayatnya "Yad'una": Menyeru, (memanggil mengajak dan menganjurkan kepada orang lain) kepada kebaikan. Karena dalam kehidupan ini tidak semua orang bisa atau mampu berbuat baik maka dari itu diperlukan ada sekelompok orang yang memiliki kepedulian untuk bisa menyeru kepada orang lain dalam hal kebaikan dan mencegah dari yang mungkar. Itulah yang kemudian disebut dengan dakwah. atau gerakan dakwah. Maka dari itu dalam Muhammadiyah ada gerakan dakwah amal makruf nahi mungkar, spiritnya dari Al-Quran surah Ali-Imran ayat:104.
Maka dengan spirit ayat inilah Muhammadiyah menjadi gerakan dakwah amal makruf nahi mungkar, dengan berbagai macam kegiatan disegala lini yang ada di Muhammdiyah misanya: Majlis Tabligh ini merupakan salah satu majlis yang membidangi segala jenis dakwah di Muhammadiyah.
Penulis: IMMawati Kholisa | Sumber : Kitab Tafsir Ibnu Katsir



Komentar
Posting Komentar