Retakan Kaca Kepercayaan



Hari ini, duka menyelimuti hatiku, mengendap perlahan seperti embun pagi yang dingin. Mataku berkaca-kaca, memantulkan bayangan kekecewaan yang tak terhingga. Aku, seorang perangkai aksara di kanvas digital, kini menemukan diriku terbata-bata di hadapan realitas yang begitu pahit. Ini bukan sekadar cerita, melainkan detak jantung yang remuk, tercabik oleh ulah jiwa yang begitu dekat.

Sulit kupercaya. Dia yang kuanggap sebagai cermin jiwaku, yang paling mengerti setiap detil getaran perasaanku, yang menjadi saksi bisu setiap senandung rindu untuk sosok itu, kini ia membangun jembatan kedekatan secara diam-diam, menari di atas puing-puing harapanku, mengukir senyum di wajah yang seharusnya menjadi pelabuhan dukaku. Bukankah seharusnya ia adalah pelita yang menerangi jalanku?

Mengapa? Pertanyaan itu menggema, berdesir pilu tanpa menemukan jawaban. Mengapa ia tega menorehkan luka sedalam ini, padahal ia tahu betapa tulusnya perasaanku pada sanubari itu? Pengkhianatan ini terasa lebih menyakitkan daripada seribu pisau. Ia tak hanya merobek hati, tetapi juga mengoyak kepercayaan yang telah kubangun bertahun-tahun lamanya.

Kesendirian terasa lebih nyaman, seperti selimut tebal yang memelukku dari dinginnya dunia. Keberanianku luruh, seiring dengan pudarnya kepercayaan terhadap siapa pun. Rasanya, tak ada lagi bahu yang bisa diandalkan, tak ada lagi telinga yang bisa mendengar tanpa pretensi.

Berharap puing-puing kekecewaan ini, akan lahir sebuah babak baru. Babak di mana aku belajar untuk lebih berhati-hati, untuk lebih memahami bahwa tidak semua kebaikan datang dari wajah yang ramah. Biarlah air mata ini menjadi saksi bisu, bahwa meskipun terluka, aku akan bangkit, menemukan kembali cahaya yang sempat meredup.



Kholisa

"Terima kasih untuk setiap retakan yang dihantam berkali-kali"

Komentar