Perlukah Kita Melahirkan E-Commerce Baru Di Indonesia?



 Halo cicit dari Adam Smith!

Belakangan ini kita diramaikan oleh ditutupnya tiktok shop, berita ini menggemparkan dunia bisnis terutama UMKM yang ada di Indonesia. 

Berdasarkan edaran yang di sampaikan oleh tiktok shop melalu akun gmail pribadi dari masing-masing pelaku usaha, disitu disebutkan alasan mengapa tiktok shop harus dihapus. Pihak tiktok shop menyampaikan bahwa alasan mereka menhapus tiktok shop Indonesia karena pihaknya menghormati Undang-Undang yang ada di Indonesia. "Dimana aturan tersebut mengatakan bahwa "aplikasi tidak boleh memiliki kepribadian ganda". Seperti yang kita ketahui bahwa aplikasi tiktok bukanlah aplikasi e-commerce, yang dengan perkembangan digital yang sangat pesat aplikasi tiktok berganda menjadi tiktok shop.

Disisi lain Presiden Jokowi Dodo menyampaikan dalam pidatonya, alasan mengapa tiktok shop harus dihapus, alasan pertama kebanyakan dari masyarakat Indonesia yang aktif dalam tiktok shop hanya menjadi konsumen bukan produsen. Beliau beranggapan jika terus-terusan seperti ini produk asing akan gampang masuk ke Indonesia karena mereka sudah bisa membaca prilaku konsumen kita. Yang kedua adalah ketidak siapan regulasi di birokrasi Indonesia, itu artinya di era digital yang berkembang pesat Indonesia belum siap menghadapinya. Itulah beberapa alasan mengapa tiktok shop harus dihapus.

Fenomena yang terjadi ini sangat meresahkan masyarakat terutama UMKM yang mayoritas profit yang mereka hasilkan kebanyakan dari tiktok shop. 

Dalam hal ini pemerintah hanya menutup atau menghilangkan dampak yang kemungkinan akan terjadi, lalu bagaimana dengan keresahan masyarakat apakah diatasi, apakah ada solusi? Saya lihat masih belum ada.

Sebagai mahasiswa Ekonomi, belakangan ini saya mendapat tugas untuk merancang aplikasi ecommerce, tapi saya berfikir kenapa saya diajari untuk merancang aplikasi baru? Apakah saya akan kaya jika lulus nanti bisa melahirkan aplikasi belanja online yang baru? Tentu tidak.

Anak ekonomi pasti akan mempelajari bagaimana kita menciptakan produk baru, analisis pasar, analisi kelayakan dan lain sebagainya. Namun tanpa kita sadari kita anak ekonomi tidak diajarkan bagaimana cara bersaing di pasar bebas, kita hanya diajari untuk menciptakan produk. 

Dari Fenomena diatas dapat saya simpulkan dari kaca ekonomi bahwasanya dihapusnya tiktok shop adalah ketidak mampuan indonesia untuk bersaing di era revolusi pemasaran saat ini.

Kalau kita lihat sudah banyak aplikasi-aplikasi ecommerce Indonesia namun mereka tidak mampu meramal masa depan. Mereka sadar bahwa mereka kalah dari aplikasi baru yang dibuat oleh orang china. Yang pada akhirnya ketidak mampuan mereka ditutupi dengan dihapuskannya aplikasi tiktok shop.

Perlukah kita melahirkan E-commerce baru jika yang lama saja tidak bisa berkembang. Alangkah baiknya jika kita merenovasi yang sudah ada dan siap untuk bersaing di pasar bebas.



Hasil dari tulisan ini diperoleh dari diskusi dengan rekan PMM3 kakak Indri Komalasari dan kakak Rani Febrianti dan mentor saya Husen Randi.

Komentar

Postingan Populer